AGSPALA (Agresa Pecinta Alam) Prumpung
Rabu, 20 November 2013
Senin, 18 November 2013
Mengenal lebih dekat dengan Gunung Papandayan Jawa Barat
Gunung
Papandayan – Jawa Barat
Gunung
Papandayan adalah gunung api yang terletak di Kabupaten Garut,
Jawa Barat tepatnya di Kecamatan Cisurupan. Gunung dengan ketinggian 2665 meter
di atas permukaan laut itu terletak sekitar 70 km sebelah tenggara Kota
Bandung.
Pada Gunung Papandayan, terdapat beberapa kawah yang
terkenal. Di antaranya Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk.
Kawah-kawah tersebut mengeluarkan uap dari sisi dalamnya.
Topografi di dalam kawasan curam, berbukit dan
bergunung serta terdapat tebing yang terjal. Menurut kalisifikasi Schmidt dan
Ferguson termasuk type iklim B, dengan curah hujan rata-rata 3.000 mm/thn,
kelembaban udara 70 – 80 % dan temperatur 10 º C.
Keaneragaman
Hayati
Potensi flora di dalam kawasan diantaranya Pohon
Suagi ( Vaccinium valium ), Edelweis (Anaphalis javanica), Puspa (Schima
walichii), Saninten (Castanea argentea), Pasang (Quercus platycorpa), Kihujan
(Engelhardia spicata), Jamuju (Podocarpus imbricatus ), dan Manglid (Magnolia
sp ). Sedangkan potensi fauna kawasan diantaranya Babi Hutan ( Sus vitatus ),
Trenggiling (Manis javanicus), Kijang (Muntiacus muntjak), Lutung (Trachypitecus
auratus ) serta beberapa jenis burung antara lain Walik (Treron griccipilla ),
dan Kutilang ( Pycononotus aurigaste.Gunung Papandayan mempunyai kawasan hutan
Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan hutan Ericaceous
Potensi
Wisata
Daya tarik Wisata Beberapa lokasi yang menarik dan
sering dikunjungi wisatawan diantaranya: • Kawah Papandayan Merupakan komplek
gunung berapi yang masih aktif seluas 10 Ha. Pada komplek kawah terdapat
lubang-lubang magma yang besar maupun kecil, dari lubang-lubang tersebut keluar
asap/uap air hingga menimbulkan berbagai macam suara yang unik. • Blok Pondok
Saladah Merupakan areal padang rumput seluas 8 Ha, dengan ketinggian 2.288
meter di atas permukaan laut. Di daerah ini mengalir sungai Cisaladah yang
airnya mengalir sepanjang tahun. Lokasi ini sangat cocok untuk tempat berkemah.
• Blok Sumber Air Panas Letaknya di perbatasan Blok Cigenah, sumber air panas
ini mengandung belerang dan berhasiat dalam penyembuhan penyakit kulit terutama
gatal-gatal. Secara keseluruhan kawasan ini memiliki panorama alam yang indah
dengan lingkungan yang relatif masih utuh dan alami yang ditunjang dengan
kesejukan udara. Kegiatan Wisata Alam yang dapat dilakukan : 1. Menikmati
keindahan dan keunikan alam 2. Lintas alam 3. Berkemah 4. Memotret 5. Mandi air
yang mengandung belerang, untuk pengobatan penyakit kulit.
Papandayan tercatat beberapa kali erupsi. Di
antaranya pada 1773, 1923, 1942, 1993, dan 2003. Letusan besar yang terjadi
pada tahun 1772 menghancurkan sedikitnya 40 desa dan menewaskan sekitar 2951
orang. Daerah yang tertutup longsoran mencapai 10 km dengan lebar 5 km.
Pada 11 Maret 1923 terjadi sedikitnya 7 kali erupsi
di Kawah Baru dan didahului dengan gempa yang berpusat di Cisurupan. Pada 25
Januari 1924, suhu Kawah Mas meningkat dari 364 derajat Celsius menjadi 500
derajat Celcius. Sebuah letusan lumpur dan batu terjadi di Kawah Mas dan Kawah
Baru dan menghancurkan hutan. Sementara letusan material hampir mencapai
Cisurupan. Pada 21 Februari 1925, letusan lumpur terjadi di Kawah Nangklak.
Pada tahun 1926 sebuah letusan kecil terjadi di Kawah Mas.
Sejak April 2006 Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan status Papandayan ditingkatkan menjadi
waspada, setelah terjadi peningkatan aktivitas seismik. Pada 7-16 April 2008
Terjadi peningkatan suhu di 2 kawah, yakni Kawah Mas (245-262 derajat Celsius),
dan Balagadama (91-116 derajat Celsius). Sementara tingkat pH berkurang dan
konsentrasi mineral meningkat. Pada 28 Oktober 2010, status Papandayan kembali
meningkat menjadi level 2.
Gunung
Papandayan, Cocok untuk Pendaki Pemula
Mendaki gunung merupakan salah satu aktivitas wisata
favorit belakangan ini. Anda tertarik mencobanya? Jika Anda baru akan mencoba
pengalaman mendaki gunung, Gunung Papandayan merupakan tempat yang tepat. Letaknya
dekat dengan Jakarta, tepatnya di Kabupaten Garut. Medannya yang tidak begitu
berat membuat gunung ini tergolong gunung yang bersahabat. Selain itu, kontur
tanahnya landai dan terdapat jalur pendakian yang aman sehingga memudahkan
pendaki pemula untuk sampai pada puncak gunung ini. Namun, kemudahan yang
ditawarkan Papandayan tidak membuat pesona gunung ini hilang begitu saja.
Sesampai di kaki gunung, pengunjung harus melakukan registrasi di pos
pendakian. Dari posisi ini, pengunjung bisa melihat kemegahan Papandayan yang
luar biasa. Setelah melakukan registrasi di pos pendakian, barulah menapaki
jalur pendakian langkah demi langkah sambil menikmati keindahan Papandayan.
Jalur yang ditempuh adalah jalur menanjak berbatu. Dalam perjalanan, pengunjung
akan melewati kawah belerang yang masih aktif. Hati-hati, bau gas belerang ini
cukup berbahaya. Setelah itu, terdapat aliran sungai yang cukup deras.
Pengunjung bisa saja langsung meminum air tersebut karena berasal dari mata air
pegunungan.Rute menanjak dengan jalan yang sempit dan jurang di sebelah kiri
akan dilewati sebelum sampai ke area perkemahan di Pondok Saladah. Sangat memacu adrenalin, apalagi jika
tanahnya sedang licin karena hujan dan tumbuhan yang menjalar menutupi jalan.
Jika tidak hati-hati, bisa saja terpeleset.
Di Pondok Saladah, cobalah mendirikan kemah di salah
satu titik yang disuka. Jagalah barang bawaan dan makanan karena terkadang ada
anjing liar yang suka menghampiri tenda. Di sini, pengunjung bisa merasakan
sensasi hidup di alam liar. Tidak seberapa jauh dari area perkemahan, terdapat
beberapa pohon Edelweiss nan cantik.
Jika istirahat sudah dirasa cukup, lanjutkan
perjalanan menuju puncak gunung. Di atas puncak terdapat padang Edelweiss yang
lebih bagus dibandingkan dengan padang dekat Pondok Saladah. Padang edelweiss di puncak
Papandayan merupakan salah satu primadona di gunung ini. Di atas puncak,
pengunjung dapat menyaksikan matahari yang terbit dan terbenam dengan indah.Sudah
mendaki sampai puncak, saatnya perjalanan pulang. Dalam perjalanan kembali,
pengunjung akan melewati hutan mati. Hutan mati ini merupakan salah satu tempat
terkenal di Papandayan, selain padang Edelweiss. Suasananya yang berkabut
dengan sisa-sisa batang pohon yang menghitam karena terbakar dan tanah berkapur
yang berwarna putih menjadikan suasana agak mistis namun tetap indah.Setelah
menjelajah hutan mati saatnya menuruni gunung. Medan yang dilalui cukup berat
karena ada beberapa titik yang curam dengan tebing berbatu tajam. Penggunaan
sepatutrekking akan
memudahkan perjalanan karena medan ini cukup licin.Sukses melewati
tebing yang curam, pengunjung akan melewati sumber air panas. Namun, air sungai
tersebut tercemar belerang jadi tidak bisa dinikmati. Setelah berjalan tidak
seberapa jauh lagi, pengunjung akan kembali ke titik awal perjalanan, yaitu pos
pendakian.
Akses ke Papandayan
Perjalanan menuju Papandayan dari Jakarta bisa
ditempuh dengan bus Jakarta-Garut dengan ongkos sekitar Rp 36.000. Begitu tiba
di Terminal Garut, jika dalam rombongan, bisa menyewa angkutan kota (angkot)
untuk menuju gerbang wisata Gunung Papandayan. Dari gerbang wisata, Anda bisa
melanjutkan perjalanan dengan menyewa mobil bak untuk mengangkut Anda dan
barang bawaan sampai ke pos pendakian di kaki gunung. Bisa juga menempuh
perjalanan dengan berjalan kaki. Angin semilir, udara sejuk, dan hamparan
pemandangan hijau akan Anda dapatkan saat perjalanan menuju kaki gunung.Walaupun
terkesan untuk pendaki pemula, Anda tetap perlu membawa peralatan lengkap jika
ingin mendaki gunung dan bermalam. Pakailah pakaian yang nyaman untuk
memudahkan pergerakan Anda, sepatu trekking agar tidak terpeleset, ransel,
masker dan topi, head lamp, obat-obatan, dan peralatan lainnya. Tak kalah
pentingnya adalah kesiapan fisik dan mental. Selamat mendaki.
Sumber: http://travel.kompas.com/read/2013/07/28/2115499/Gunung.Papandayan.Cocok.untuk.Pendaki.Pemula
Senin, 11 November 2013
SEJARAH AGSPALA (AGRESA PECINTA ALAM)
SEJARAH AGSPALA
AGSPALA berdiri pada tahun 2002 dan bermarkas di Gg.Remaja 1 Prumpung Jakarta Timur dengan pelopor pemuda - pemuda AGRESA yakni RULI SUSANTO (Pitoy), RUBY APRIANDI (Ripin) dan ASEP (Fren) yang merupakan PIONIR berdiri nya AGSPALA. Sebelum berdirinya AGSPALA mereka sudah melakukan Ekspedisi ke Gunung Gede (Jawa Barat) tetapi masih menggunakan nama AGRESA. maka dari itu munculah ide untuk membentuk komunitas pecinta alam dengan nama komunitas AGSPALA (AGRESA PECINTA ALAM) dan memulai ekspedisi pertama menggunakan nama AGSPALA pada awal 2003 ke Gunung Slamet (Jawa Tengah).
PIONIR AGSPALA :
- RULI SUSANTO (Pitoy) FB: https://www.facebook.com/ruli.susanto.3?fref=ts
- RUBY APRIANDI (Ripin) FB: https://www.facebook.com/ruby.apriandi?fref=ts
- ASEP (Fren)
- Agus (Timbul)
- Arie (Toge)
- andi (Cendil)
-Haska (Ibing)
- Nunik
-Dewi
AGSPALA berdiri pada tahun 2002 dan bermarkas di Gg.Remaja 1 Prumpung Jakarta Timur dengan pelopor pemuda - pemuda AGRESA yakni RULI SUSANTO (Pitoy), RUBY APRIANDI (Ripin) dan ASEP (Fren) yang merupakan PIONIR berdiri nya AGSPALA. Sebelum berdirinya AGSPALA mereka sudah melakukan Ekspedisi ke Gunung Gede (Jawa Barat) tetapi masih menggunakan nama AGRESA. maka dari itu munculah ide untuk membentuk komunitas pecinta alam dengan nama komunitas AGSPALA (AGRESA PECINTA ALAM) dan memulai ekspedisi pertama menggunakan nama AGSPALA pada awal 2003 ke Gunung Slamet (Jawa Tengah).
PIONIR AGSPALA :
- RULI SUSANTO (Pitoy) FB: https://www.facebook.com/ruli.susanto.3?fref=ts
- RUBY APRIANDI (Ripin) FB: https://www.facebook.com/ruby.apriandi?fref=ts
- ASEP (Fren)
- Agus (Timbul)
- Arie (Toge)
- andi (Cendil)
-Haska (Ibing)
- Nunik
-Dewi
Mengenal Gunung Gede Pangrango
Taman Nasional Gunung
Gede Pangrango
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) mempunyai
peranan yang penting dalam sejarah konservasi di Indonesia. Ditetapkan sebagai
taman nasional pada tahun 1980. Dengan luas 21.975 hektare, kawasan Taman
Nasional ini ditutupi oleh hutan hujan tropis pegunungan, hanya berjarak 100 km
dari Jakarta. Di dalam kawasan hutan TNGP, dapat ditemukan “si pohon raksasa”
Rasamala, “si pemburu serangga” atau kantong semar (Nephentes spp);
berjenis-jenis anggrek hutan, dan bahkan ada beberapa jenis tumbuhan yang belum
dikenal namanya secara ilmiah, seperti jamur yang bercahaya. Disamping keunikan
tumbuhannya, kawasan TNGP juga merupakan habitat dari berbagai jenis satwa
liar, seperti kepik raksasa, sejenis kumbang, lebih dari 100 jenis mamalia
seperti Kijang,Pelanduk, Anjing hutan, Macan tutul, Sigung, dll, serta 250
jenis burung. Kawasan ini juga merupakan habitat Owa Jawa, Surili danLutung dan
Elang Jawa yang populasinya hampir mendekati punah.
Iklim
Ada dua iklim yaitu musim kemarau dari bulan Juni sampai
Oktober dan musim penghujan dari bulan Nopember ke April.
Selama bulan Januari sampai Februari, hujan turun disertai
angin yang kencang dan terjadi cukup sering, sehingga berbahaya untuk
pendakian. Hujan juga turun ketika musim kemarau, menyebabkan kawasan TNGP
memiliki curah hujan rata-rata pertahun 4000 mm.
Rata-rata suhu di Cibodas 23 °C, dan puncak tertinggi berada
pada >3000 m dpl.
sumber: Wikipedia Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)